Tiga dekade telah berlalu sejak Alien (1979) persembahan sineas berkebangsaan Inggris; Ridley Scott, pada masanya mampu meraih kesuksesan baik secara kualitas maupun raupan finansial, disusul dengan sekuel besutan James Cameron; Aliens (1986), yang di luar dugaan hasilnya bahkan mampu melebihi predesornya. Keduanya diakui sebagai seri paling terbaik dari franchise Alien, hingga membuat sosok Xenomorph turut menjelma menjadi salah satu ikon monster paling populer dalam sejarah perfilman Hollywood. Ironisnya, dua sekuel berikutnya; Alien³ (1992) dan Alien: Resurrection (1997), tak lagi tampil sekarismatik saat dipegang Scott dan Cameron, meski dari segi pemasukan tetap membuat para eksekutif Fox tersenyum lebar. Hal ini ditambah dengan kemunculan dua crossover Alien vs. Predator yang dianggap telah mematikan keabsahan franchise Alien dan membuat rencana proyek film kelima yang sebenarnya sudah digagas sejak awal tahun 2000-an lalu kian terbenam semata hanya karena sikap ignorant pihak studio. Lewat Prometheus, sutradara yang kerap memakai jasa aktor Russell Crowe dalam film-filmnya tersebut kini memutuskan untuk kembali menggarap genre dan franchise yang telah membesarkan namanya di kancah Hollywood. Saat nama Scott dipublikasikan sebagai sutradara sekaligus produser yang akan menukangi film ini, banyak pihak yang optimis dan memperkirakan bahwa film ini akan menjadi film Alien yang berbeda dari yang sudah ada.

Sadar bahwa alur maju bukanlah opsi yang bijaksana, awalnya Scott memang merencanakan sebuah kisah prekuel langsung dari film pertamanya. Kebetulan aspek ini sangat kurang tergali, jika tidak bisa dikatakan memang belum pernah dieksplor sama sekali. Namun, seiring dengan perkembangannya, naskah yang ditulis oleh Jon Spaihts (The Darkest Hour) dan direvisi oleh Damon Lindelof (serial Lost) ini kemudian berubah menjadi cerita yang bergulir sebelum kejadian di Alien, namun keseluruhannya adalah cerita baru yang berdiri sendiri dan sama sekali tidak berkaitan langsung dengan film atau karakter manapun dari franchise Alien, tapi tetap dalam universe yang sama. Dan, itulah yang tersaji dalam Prometheus. Dengan mengambil nama salah satu titan dari mitologi Yunani yang dianggap sesuai dengan tema yang diangkat dan digunakan sebagai nama kapal di film ini, plot utama ceritanya mencoba menyinggung apa yang disebut awal mula kehidupan di bumi, asal usul umat manusia beserta teori-teorinya, hingga berujung pada kelahiran nenek moyang Xenomorph, sesuai yang dibutuhkan guna memberikan pondasi unsur fundamental yang kuat pada franchise ini. Menyertakan unsur mitos lama yang memang sudah melegenda di kalangan fans, khususnya tentang ras Space Jockey dari film pertamanya yang di sini disebut The Engineer, Prometheus memenuhi kriteria untuk dinilai berhasil memberi angin segar.

Tak ada yang menyangkal jika faktanya Prometheus menawarkan banyak lanskap-lanskap yang di-shot serba kolosal dan megah, mulai dari air terjun besar nan eksotis, keindahan gambaran bumi sebelum dijamah manusia, hingga keberadaan planet misterius LV-223 yang keseluruhannya akan membuat National Geographic merasa tersaingi. Layaknya para kru ekspedisi kapal riset Prometheus ketika pertama kali menginjakkan kaki di planet tersebut, penonton pun diajak berbagi perasaan takjub yang sama dengan mereka kala melihat dunia rekaan Scott yang begitu memukau. Dilirik dari sajian visualnya, sangatlah terlihat bahwa Scott memang tak main-main, di mana tampilan yang ada di sini sudah pasti berkali-kali lipat melampaui visual film manapun dari franchise-nya. Terkesan tidak berlebihan rasanya kalau visualisasi yang ada boleh dikatakan salah satu karya masterpiece yang pernah ada di dunia perfilman — untuk saat ini, layaknya Avatar (2009) pada masanya. Dibesutnya film ini dalam format 3D dan IMAX 3D juga menjadi salah satu kelebihan yang cukup memanjakan mata.

Mengesampingkan pameran set desain produksi dan sinematografinya, sebagai film yang berisi ide hebat dan konsep abstrak yang berusaha menjadi tontonan cerdas sekaligus kompleks seperti ini jelas bukan sebuah paparan yang dapat dianggap enteng. Dengan mengangkat tema tentang penciptaan dan makna eksistensi manusia di bumi, Prometheus bisa dibilang berhasil menetralkan perbedaan sudut pandang agama dan sains dengan cukup baik. Namun, bila berbicara tentang plot, bisa jadi banyak kalangan akan mengerutkan kening kala menonton film ini karena terdapat banyak hal yang dapat menimbulkan pertanyaan. Kelemahan Prometheus muncul dari segi narasi penceritaannya yang terus-menerus membombardir penonton dengan banyak pertanyaan, namun gagal memberikan makna dan kesempatan agar dapat dicerna penonton, melainkan malah meninggalkan kesimpulan-kesimpulan sendiri tanpa jawaban yang pasti. Mungkin Prometheus memang tidak pernah dimaksudkan secara konkret dan gamblang dalam menjawab segala pertanyaan yang ada, tentunya dengan tujuan agar dapat menyulut diskusi yang tak akan ada habisnya dibahas seusai menonton. Sayangnya, kebanyakan dari insiden yang terjadi di sini juga didasari oleh kecerobohan para kru Prometheus yang terkesan tindakan paling bodoh dalam sejarah pengeksplorasian ruang angkasa. Ketika diceritakan dua anggota awak kapal berpisah dari rombongan utama, penonton seharusnya sudah bisa menebak akan terjadi hal-hal buruk, apalagi di saat sang kapten kapal; Janek (Idris Elba), meninggalkan posnya di anjungan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya untuk alasan yang terasa konyol.

Begitu juga bila menyinggung soal Elizabeth Shaw. Karakter yang satu ini memang dibawakan sangat gemilang oleh aktris berbakat yang karirnya terus meningkat pasca trilogi Millennium; Noomi Rapace. Shaw muncul dengan aura heroine yang diproyeksikan a la Ellen Ripley-nya Sigourney Weaver, namun tak pernah sekalipun meninggalkan sisi feminin dibalik ketangguhannya tersebut. Seperti Ripley, Shaw turut memancarkan sosok yang berkemauan keras dengan intensitas dan kepribadian yang kuat, termasuk saat terbaring panik dalam adegan pengoperasian rahim dengan mesin otomatis yang akan terlihat disturbing dan mengerikan bagi kalangan tertentu, namun percayalah, bagian tersebut merupakan salah satu momen terbaik di film ini. Sayangnya, di satu sisi, terasa absurd bagaimana seorang arkeolog bisa menaruh kepercayaan terhadap ‘sesuatu’ yang begitu abstrak dan belum pernah ditemuinya sama sekali hanya berpegang teguh pada sebuah ‘keyakinan’ yang dengan sendirinya patut dipertanyakan. Terus terang, satu-satunya karakter yang terasa logis di sini sebenarnya bahkan bukan manusia sama sekali, melainkan android bernama David 8 yang diperankan oleh Michael Fassbender lewat performanya yang memang layak diacungi jempol. Atas dominasi dua karakter ini pula nampaknya beberapa tokoh lainnya hanya kebagian porsi yang agak tersingkirkan, termasuk Charlize Theron yang memerankan Meredith Vickers yang begitu dingin.

Amat disayangkan bagaimana keseluruhannya harus dihubung-hubungkan dengan franchise Alien. Dari materi promosi awal yang dipublikasikan, bagi mereka yang berharap dapat menyaksikan visualisasi yang sama persis dengan film-film Alien sebelumnya, boleh jadi akan kecewa dengan banyaknya perubahan-perubahan yang dilakukan Scott karena tak sesuai harapan, meskipun tidak sampai menghilangkan esensi dari ceritanya sendiri. Keseluruhan film ini memang berbeda dari film Alien yang dulu pernah ada dan masih menarik untuk ditonton jika kita ingin melihat dari sudut pandang kejadian yang berbeda lewat sajian yang lebih fresh. Dengan alasan tersebut, sebenarnya memang tak pantas membanding-bandingkan Prometheus dengan film Alien manapun, namun sulit rasanya untuk menghindari hal itu karena apapun alasannya, sekuel dengan timeline balik ke sebelum film awalnya adalah prekuel. Prometheus memang bukan tipe film yang bisa dengan mudah mampu ‘mengambil hati’ berbagai kalangan. Dengan kata lain, film ini bukan jenis film untuk semua orang. Minimal, kehadiran sekuel kiranya bisa mengungkap beberapa misteri yang belum terjawab.